JUDUL

fb twitter banner promo

close
Banner iklan disini

MENU HORIZONTAL

Jumat, 13 Januari 2012

Nature Based Management 1

MANAJEMEN UMUM (SOFTKILL)
Ringkasan dari Buku Nature Based Management






KELAS      : 1DB09

Disusun Oleh :

ABDUL FALIH                                                      ( 39111169 )
FELIXS ARGA MAHADIKA                                ( 32111805 )
HARSENO AJI                                                      ( 33111248 )    
TRI RAGIL MUJIYANTO                                     ( 37111171 )
KUKUH WINDU PRANOMO                              ( 34111032 )



KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan ridho dan rahmatnya tugas manajemen umum (Softkill) ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulisan rangkuman dari buku NATURE BASED MANGEMNT ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas dalam mata kuliah Manajemen Umum ( Softkill ) universitas gunadarma. Penulis sangat menyadari bahwa, tanpa bantuan dari beberapa pihak, sangatlah sulit untuk menyelesaikan makalah sistem informasi ini dengan baik dan tepat waktu.
untuk itu penulis meminta yang sebesar-besarnya  apabila ada kesalahan maupun kekurangan didalam penulisan rangkuman ini. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca, agar kedepanya pembuatan makalah sistem informasi ini dapat terus ditingkatkan dan dapat menjadi lebih baik lagi.







Jakarta,   Januari 2012



                 Penulis



BAB I


ANGIN
Tak Terbak, Prestasi Pun Melonjak

Angin adalah sebuaih elemen alam yang tidak terdefenisi karakternya jarena dia sejatinya tidak memiliki watak yang ajeg. Atau, kalau kita masih mau mencoba mengklasifisikasikan itu sendirilah yang menjadi sifatnya. Coba renungkan saja, angin dapat berhembus semilir menyejukan hawa dan mendinginkan hati, tapi  bisa mndadak berubah kencang membuyarkan benda-benda. Angin pun dapat menggerakan kincir air, jugaj dapat menjadi sumber energi pembangkit listrik.
            Karena itu, sifat tak terdugalah yang menjadi kelebihan angin. Makanya, orang yan mood-nya berganti-ganti sering disebut “angin-anginan”. Angin bagaikan suhu dewa mabuk yang jurus-jurusnya liar penuh kejutan dan mengagetkan lawan. Dalam teori pemasaran, inilah yang disebutkan oleh Thomas Bonoma, artinya jurus-jurus pemasaran pendobrak dan radikal yang memang penuh kelokan
            Sepengamatan Bonoma, kesuksesan tergantung pada keberadaan marketing subvervive di dalam perusahaan, yaitu mereka yang membongkar stuktur organisasi untuk menerapkan praktik-praktik pemasaran baru. Dengan berimprovisasi liar berdasarkan keahlian tradisional-interaksi, pengalokasian sumber daya, pemantauan, dan pengelolaan-mereka kerap mengambil resiko untuk mrmperkenalkan praktik-praktik tak lazim. Makanya pengelolaan kejutan-kejutan dengan baiklah yang sebenarnya akan menghasilkan letupan-letupan prestasi yang tak berkesudahan. Bagi Bonama, ada dua resep utama pengelolaan untuk melanggengkan praktik marketing subversies, yaitu mendorong rasa tidak puas dan mencari role models atau anutan
Tengok saja Richarad Branson, sang CEO nan eksentrik dari virgin group. Sangking eksentriknya, Branson yang bergaya ugal-ugalan ini bahkan dijuluki Rebel Billionarie karena pemikirannya yang tak terduga, liar, penuh tikungan, tapi dahsyat bukan main . salah satu contoh keliaranya adalah ketika ia mendobrak pakaem bahwa suatu Brand kuat dalam satu produk tertrntu seyogyanya tidak melakukan brand extension dengan mengusung nama brand yang sama.
Faktor apa sebenarnya yang membuat elemen angin yang dikerahkan Branson ini sukses? Kuncinya adalah konsisten dengan sifat angin itu.


GURUN PASIR
Zona Keseimbangan Penggodok Perubahan

Pesona gurun pasir berasal dari berkumpulnya elemen-elemen yang saling bertentangan dalam diri gurun pasir. Sebagai contoh, pada siang hari gurun pasir terik luar biasa, sementara di malam hari dingin penusuk tulang yang menggantikan . kontras lain, gurun pasir identi dengan kegersangan tanpa air di satu sisi, padahal di sisi lain ia menyajkan pula tanaman kaktus yang menyimpan cairan berlimpah-ruah.
Dalam bahasa kerenya gurun pasir adalah semacam tempat yin dan yang berkumpul dimana terdapat elemen-elemen yang saling menetralkan sehingga terdapat keseimbangan atau titik nol. Dalam istilah manajemen, inilah yang disebut William Bridge dan Susan Mitchell dalam “Memimpin Transisi: Model Baru untuk Perubahan” sebagai zona netral, yang memang mereka sinonimkan dengan gurun pasir. Menurut Bridge dan Mitchell, fase transisi ala gurun adaah zona netral tempat tiadanya kepastian dan berkumpulnya kebingungan yang sangat menguras energi. Zona netral tidak nyaman sehingga orang ingin keluar dari situ. Sebagian orang mencoba maju dengan tergesa-gesa ke dalam situasi baru, sementara yang lain berusaha mundur ke masa lalu. Bagaimana pun juga, waktu di zona netral ini tidak sia-sia karena di situlah kreativitas dan energi transisi ditemukan dan tranformasi yang sesungguhya terjadi.
Untuk melalui zona netral gurun pasir ini, terdapat tujuh langkah panduan:
Ø  Memperbesar tulah, kutukan, atau tekanan
Ø  Menandai akhir
Ø  Menghadapi desas-desus
Ø  Memberi rakyat akses kepada pembuat keputusan
Ø  Memanfaatkan peluang kretif yng disediakan zona netral
Ø  Menolak desakan untuk maju dengan tergesa-gesa
Ø  Memehami bahwa kepemimpinan zona netral adalah istimewa.

API
Motivasi Pemantik Aksi

            Berbicara soal motivasi yang diumpamakan sebagai api yang perlu dipantik, Theresa Amabile dalam artikel klasiknya, “How to Kill Creativity” mengulik tentang ini dalam teorinya yang ia beri nama Intrinsic Motivation Principle of Creativity. Dalam teori ini, Amabile mengemukakan bahwa kreativitas terdiri dari tiga unsur, yaitu berfikir secara imajnatif, keahlian dan motivasi.
            Amabile menjekaskan bahwa pemikiran kreatif  merujuk pada  cara orang menghampiri masalah dan mencetuskan solusi, yakni kemeampuan menyatukn ide-ide yang ada kedalam kombinasi baru. Pemikiran pada kepribadian, pola pikir, dan pola kerja seseorang. Keahlian adalah segala sesuatu yang anda ketahui dan bisa anda lakukan dalam cakupan wilayah kerja anda. Sementara itu, apbila kedua elemen kretivitas diatas hanyalah sumber daya internal yang dimiliki seseorang, maka motivasi merupakan elemen terakhir yang sebenarnya menjadi penentu apakah orang itu akan bertindak ataukah hanya berpangku tangan. Oleh sebab itu, bisa saja kejadian seseorang memiliki segudang pemikiran kreatif dan keahlian untuk menerapkannya dalam tindakan tapi tidak bisa mewujudkannya karena ia kekurangan aau tidak memiliki motivasi sama sekali.
            Amabile melanjutkan motivasi terbagi menjadi ekstrinsik dan intrinsik, yang mana hal terakhirlah yang dianggap lebih penting dalam kretivitas. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang, misalnya, taakut akan hukum atau ingin mendapatkan penghargaan. Akan tetapi, motivasi ini tidak berhasil jika karyawan atau bawahan tidak merasakan gairah dan minat besar pada pekerjaan mereka. Oleh sebab itu, gairah dan minat-hasrat internal seseorang untuk melakukan sesuatu-merupakan inti dari motivasi intrinsik. Keduanya harus benar-benar diutamakan dalam kegiatan kreatif.
            Membahas ulang penelitian Amabile dalam bahasa yang lebih sederhana, sesorang akan lebih kreatif tatkala ia merasa termotivasi oleh minat, kepuasan, dan tantangan dari kerja itu sendiri dari pada oleh tekanan eksternal. Karenanya, Anda ingin berinovasi harus terbakar oleh api minat dan gairah yang bear terhadap bidang yang ingin anda geluti. Dengan begitu, kemungkinan annda menelurkan varian pemasaran, proses, atau pelayanan. Jadi, kata kunci bagi motivasi adalah bara gairah dan hasrat. 




GUNUNG
Pengantar Hati, Pencetus Revolusi

Apa yang patut diikuti dari gunung ? Kevin Roberts dalam bukunya yang berjudul Lovemarks:the future Beyond Brands, memberikan jawabanya. Dalam bukunya itu Roberts Mengemukakan bahwa untuk bisa memahami pelanggan, perusahaan atau pemasar harus rela “Naik Gunung” (climb the mountain). Maksudnya, kalau kita hanya melihat bisnis kita dari kegagalan bagi orang yang memiliki motivasi interinsik tidak membuatnya menjadi berputus asa. Kegagalan justru laksana vitamin yang akan membuatnya menjadi lebih kuat, lebih bertenaga dan lebih termotivasi lagi untuk meraih kesuksesan.
Perlunya Big Picture ini penting terutama jika terkait dengan sifat gunung berjenis lain, yaitu gunung aktif. Jenis gunung semacam ini mengundang rasa kagum sekaligus cemas bagi masyarakat, apalagi komunitas setempat. Kalau gunung merapi meletus hebat, niscaya akan terjadi dapak yang cukup luas . Namun dampak luas menggetarkan ini jangan sekedar dipersepsikan negative. Sebenarnya, dalam contoh kasus, letusan gunung berapi malah mengobarkan perubahan alias mencetuskan revolusi. Maka dari itu, kembali menjejak dunia manajemen, gunung dalam bahasa garangnya adalah perlambangan revolusi. Apabila dikawinkan dengan pendapat Roberts akan perlunya perusahaan mendapatkan Big Picture, kita bisa mengatakan bahwa Perusahaan dan institusi yang ingin mencetuskan revolusi ala gunung dalam kinerja haruslah menetapkan visi besar terlebih dahulu.

Pelajaran Manajemen Dari Gunung

Ø  Gunung mengajarkan pentingnya mendapatkan gambaran umum komprehensif atau medan umum persaingan pasar (Big picture) sebelum langkah-langkah kongkret.
Ø  Gunung juga mewejangkan bahwa jika ingin sukses, janganlah setengah-setengah. Fokus dan tekunin betul bisnis atau pekerjaan kita serta tangkap peluang yang ada dengan sebaik mungkin. Jadilah yang terbaik dibidang yang kita geluti. Inilah yang dikatakan Hermawan Kartajaya sebagai “eat, sleep and with your business”.
Ø  Gunung sekaligus perlambang revolusi. Revolusi dalam tubuh organisasi haruslah diawali dari penentuan visi besar terlebih dahulu. Visi besar itu umumnya terbagi menjadi visi jangka pendek yang melibatkan Shock therapy; Visi jangka panjang menengah; dan visi jangka panjang.



LEMBAH
Mengubah Kelembahan Menjadi Kekuatan

Dibandingkan puncak gunung, lembah jelas kurang seksi. Lembah yang letaknya ada di bawah kerap menjadi ibarat bagi nasib mengenaskan, seperti terungkap dalam kalimat “terpuruk dalam lembah kenistaan atau lembah kesengsara”.
Ada dua kata kunci dalam penanggulangan: Penghematan tapi sekaligus juga tindakan penanggulangan. Ini Memberikan pelajaran bahwa apabila anda merasa sebagai pihak yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan dan merasa sedang berada di posisi bawah di dalam lembah, janganlah gundah. Justru kelemahan itulah yang dapat menjadi tambang potensional bagi anda untuk meraih kekuatan. Jadi, apakah Anda sudah siap mengantisipasi dan bangkit kembali dari situasi lembah?

Pelajaran Manajemen Dari lembah

Ø  Lembah mewakili titik-titik nadir di dalam kehidupan. Namun, hikmah penting dari lembah adalah bahwa kelemahan itu sebenarnya bisa di ubah menjadi kekuatan.
Ø  Mekanisme penanggulangan situasi ala lembah dapat di teladani. Dengan kata lain, melakukan penghematan tapi sekaligus juga tindakan penanggulangan.
Ø  Untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan, kondisi jatuhnya menjadi kondisi memantul, ada sejumlah langkah yang bisa di lakukan

1>    Menerima kondisi memantul
2>    Mengelola kegelisahan
3>    Mengelola faktor-faktor mental
4>    Mengelola uang
5>    Mengelola misi
6>    Mengelola moral atau semangat tim



GUA
Nilai Luhur Modal Usaha Makmur

Sering Melihat wayang, ya kadang tokoh-tokoh pada wayang itu sering bertapa di Gua untuk mendapatkan pusaka, dalam dunia nyata bisa bisa di ambil sisi manajemennya.
Gua adalah wadah untuk menggali nilai-nilai mulia demi mendapatkan kepenuhan hidup di dunia.
Jadi, Apabila gua merupakan perlambangan bagi nilai-nilai luhur bagi manusia, maka dalam bahasa manajemen inilah yang di sebut Leonard L. Berry dalam artikelnya untuk the Drucker’s Foundation “kedermawanan Strategis” sebagai values-driven leadership alias kepemimpinan yang di gerakan nilai-nilai. Menurut Berry, kepemimpinan semacam ini terdiri dari sejumlah nilai luhur-dalam bahasa kami, nilai luhur ala gua-sebagai berikut:
1>    Keunggulan: Menekankan standar tinggi di dalam organisasi.
2>    Inovasi: Mengubah status quo menjadi lebih baik.
3>    Kegembiraan: Mengangkat semangat manusiawi.
4>    Kerja sama tim: secara bersama-sama menyatukan sumberdaya kedalam satu tujuan bersama.
5>    Rasa hormat: Menanamkan martabat dan harga diri bagi pelanggan dan orang-orang yang melayani mereka.
6>    Integrasi: Bersaing berdasarkan kejujuran dan aturan main.
7>    Manfaat sosial: Menciptakan manfaat bagi masyarakat banyak di luar pemasaran barang dan jasa menciptakan lapangan kerja.


Pelajaran Manajemen dari Gua

Ø  Gua adalah symbol bagi nilai-nilai luhur dan etis yang ternyata bsia juga menjadi senjata ampuh dalam dunia berbisnis dan manajemen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar